PNEUMONIA
Gejala khasnya meliputi batuk, nyeri dada, demam, dan kesulitan bernapas.[4] Alat diagnostik mencakup rontgen dan pengambilan kultur dari sputum. Vaksin untuk mencegah jenis pneumonia tertentu kini sudah tersedia. Pengobatan yang dilakukan bergantung pada penyebab dasarnya. Dugaan pneumonia bakterial diobati dengan antibiotik. Jika pneumonianya parah, penderita biasanya dirujuk ke rumah sakit.
Setiap tahunnya, pneumonia menjangkiti sekitar 450 juta orang, tujuh persen dari total populasi dunia, dan menyebabkan sekitar 4 juta kematian. Walaupun pneumonia dijuluki oleh William Osler pada abad ke-19 sebagai "the captain of the men of death" (pemimpin kematian),[5] penemuan terapi antibiotik dan vaksin pada abad ke-20 telah meningkatkan daya tahan hidup.[6] Meskipun demikian, di negara berkembang, dan di antara orang-orang berusia sangat lanjut, sangat muda, dan penderita sakit kronis, pneumonia tetap menjadi penyebab kematian yang utama.
Tanda-tanda dan gejala
|
Frekuensi gejala[8]
|
|
|
Gejala
|
Frekuensi
|
|
Batuk
|
79–91%
|
|
Kelelahan
|
90%
|
|
Demam
|
71–75%
|
|
Sulit bernapas
|
67–75%
|
|
Sputum
|
60-65%
|
|
Nyeri dada
|
39-49%
|
Gejala utama
pneumonia yang menular
Pasien
pneumonia yang menular biasanya menderita batuk
produktif, demam yang disertai menggigil
bergetar, sulit
bernapas, nyeri
dada yang tajam atau menghunjam selama menarik napas dalam-dalam,
dan peningkatan laju
respirasi. Pada manula, adanya kebingungan
menjadi tanda yang paling utama. Tanda-tanda dan gejala khusus
pada anak-anak balita yaitu demam, batuk, dan napas yang cepat atau sulit
Demam tidak
sangat spesifik, karena ini gejala yang umum timbul pada berbagai penyakit, dan
mungkin tidak tampak pada penderita penyakit parah atau malnutrisi. Selain itu, gejala batuk sering
tidak muncul pada anak-anak berusia kurang dari 2 bulan. Tanda-tanda dan gejala yang
lebih parah meliputi: kulit
biru, rasa haus berkurang, konvulsi, muntah-muntah yang menetap,
suhu ekstrim, atau penurunan tingkat kesadaran.
Kasus
pneumonia bakterial dan viral biasanya muncul dengan gejala yang serupa.Beberapa penyebabnya dikaitkan
dengan karakteristik klinis yang klasik tetapi tidak spesifik. Pneumonia yang
disebabkan oleh Legionella
dapat muncul disertai nyeri perut, diare, atau kebingungan, sedangkan pneumonia yang
disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae dikaitkan
dengan sputum berwarna karat, dan pneumonia yang disebabkan
oleh Klebsielladapat
disertai sputum berdarah yang sering digambarkan sebagai "currant
jelly" (lendir merah).Sputum berdarah (dikenal sebagaihemoptisis)
juga dapat muncul pada tuberkulosis,
pneumonia gram-negatif, dan abses paru serta umum dijumpai pada bronkitis
akut. Pneumonia mikoplasma
dapat timbul bersama pembengkakan nodus limfa di leher, nyeri
sendi, atau infeksi telinga tengah. Pneumonia viral lebih umum
muncul disertai mengi
dibandingkan dengan pneumonia bakterial.
Penyebab
Bakteri Streptococcus pneumoniae, penyebab umum pneumonia, gambar diambil menggunakan mikroskop elektron
Pneumonia
terutama disebabkan oleh infeksi dari bakteri atau virus
dan jarang dijumpai disebabkan oleh fungi
dan parasit. Walaupun terdapat lebih dari 100
galur agen infeksi yang telah diidentifikasi, namun hanya beberapa yang bertanggungjawab
atas mayoritas kasus yang ada. Infeksi bersama dengan virus beserta bakteri
dapat muncul hingga sebanyak 45% infeksi pada anak-anak dan 15% infeksi pada
orang dewasa. Agen penyebabnya tidak dapat
diisolasi pada sekitar setengah kasus yang ada walaupun pengujian yang cermat
telah dilakukan.
Istilah pneumonia
terkadang digunakan secara lebih luas terhadap berbagai kondisi yang
menyebabkan inflamasi paru-paru (misalnya yang
disebabkan oleh penyakit
autoimun, luka bakar kimia atau reaksi obat); namun demikian,
inflamasi ini lebih tepat disebut sebagai pneumonitis.Menurut sejarahnya agen
penginfeksi dibagi menjadi "khas" dan "tidak khas"
didasarkan pada aspek yang diduga, tetapi bukti-bukti yang ada tidak mendukung
pembedaan ini, sehingga kini tidak lagi ditekankan.
Faktor
risiko dan kondisi yang memengaruhi pneumonia mencakup: merokok,
imunodefisiensi, alkoholisme, penyakit obstruktif paru kronis, penyakit ginjal kronis, dan penyakit
hati. Penggunaan obat-obatan yang
bersifat menekan asam seperti penghambat pompa proton atau penyekat
H2- dikaitkan dengan peningkatan risiko pneumonia. Usia lanjut juga
berpengaruh pada pneumonia.
Bakteri
Bakteri
adalah penyebab paling umum dari pneumonia dapatan masyarakat (CAP), dengan Streptococcus pneumoniae berhasil
diisolasi dalam hampir 50% kasus yang ada.Bakteri lain yang umum diisolasi
mencakup termasuk: Haemophilus influenzae dalam 20% kasus, Chlamydophila pneumoniae dalam 13%
kasus, dan Mycoplasma
pneumoniae dalam 3% kasus;[20] Staphylococcus
aureus; Moraxella
catarrhalis; Legionella pneumophila dan Basilus
gram-negatif Sejumlah versi kekebalan
obat dari infeksi di atas makin umum dijumpai, termasuk Streptococcus
pneumoniae kebal obat (DRSP) dan Staphylococcus aureus yang kebal terhadap metisilin(MRSA).
Penyebaran
organisme mudah terjadi jika faktor risikonya ada.Alkoholisme diasosiasikan denganStreptococcus
pneumoniae, organisme anaerobik,
dan Mycobacterium tuberculosis; merokok mempermudah pengaruh dariStreptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis,
dan Legionella pneumophila. Pajanan terhadap burung diasosiasikan dengan
Chlamydia
psittaci; terhadap hewan ternak dengan Coxiella
burnetti; aspirasi isi perut dengan organisme anaerobik;
dan fibrosis
kistik dengan Pseudomonas
aeruginosa dan Staphylococcus aureus.Streptococcus pneumoniae
lebih sering dijumpai di musim dingin, dan patut diduga pada orang yang
menghirup sejumlah besar organisme anaerobik.
Virus
Virus
bertanggungjawab atas sekitar sepertiga kasus pneumonia pada orang dewasa dan sekitar 15% kasus pada
anak-anak. Agen yang biasanya terkait
mencakup: rhinovirus,
coronavirus,
virus
influenza,virus sinsitium pernapasan (RSV), adenovirus,
dan parainfluenza.Virus herpes
simpleks jarang menyebabkan pneumonia, kecuali dalam kelompok
seperti: bayi baru lahir, penderita kanker, penerima transplantasi, dan
penderita luka bakar yang cukup parah. Orang yang menjalani transplantasi organ
atau yang mempunyai respon
imun lemah menunjukkan tingkat pneumonia cytomegalovirus
yang tinggi.] Para penderita infeksi virus
dapat terinfeksi secara sekunder dengan bakteri Streptococcus pneumoniae,
Staphylococcus aureus, atau Haemophilus influenzae, khususnya
ketika disertai masalah kesehatan lain. Virus yang berbeda mendominasi
masa yang berbeda dalam setahun, sebagai contoh selama musim influenza maka
virus influenza bertanggungjawab atas lebih dari separuh kasus virus yang
terjadi. Wabah virus lainnya juga
sesekali muncul, termasuk hantavirus
dan coronavirus.
Fungi
Pneumonia
jamur jarang dijumpai, namun lebih sering muncul pada individu yang menderita sistem kekebalan lemah akibatAIDS,
obat penekan kekebalan, atau masalah medis lainnya. Jenis ini paling sering
disebabkan oleh Histoplasma capsulatum,
blastomyces, Cryptococcus
neoformans, Pneumocystis
jiroveci, dan Coccidioides
immitis. Histoplasmosis
paling umum terjadi di lembah
Sungai Mississippi, dan coccidioidomycosis
paling umum dijumpai di Barat
Daya Amerika. Jumlah kasus telah meningkat di
paruh kedua abad ke-20 akibat makin seringnya orang melakukan perjalanan dan
meningkatnya supresi kekebalan tubuh dalam populasi.
Parasit
Beragam parasit dapat memengaruhi paru-paru,
termasuk: Toxoplasma gondii,
Strongyloides stercoralis,Ascaris
lumbricoides, dan Plasmodium malariae. Berbagai organisme ini biasanya
memasuki tubuh melalui kontak langsung dengan kulit, pencernaan, atau melalui
vektor seranggaKecuali untuk Paragonimus westermani, kebanyakan parasit tidak
secara khusus menginfeksi paru-paru tetapi melibatkan paru-paru sebagai tempat
sekunder terhadap tempat lainnya.[26] Sebagian parasit, khususnya yang
termasuk genera Ascaris danStrongyloides, merangsang timbulnya
reaksi eosinofilik
kuat, yang dapat mengakibatkan pneumonia
eosinofilik. Dalam infeksi lainnya, seperti
malaria, keterlibatan paru terutama akibat inflamasi sistemik yang diinduksi
oleh sitokin. Di negara berkembang infeksi semacam ini
paling sering dijumpai pada orang-orang yang kembali dari bepergian atau pada
para imigran Secara global, infeksi-infeksi
paling sering terjadi pada pada penderita defisiensi kekebalan tubuh.
Patofisiologi
Pneumonia
mengisi alveoli paru-paru dengan cairan, menghalangi
oksigenasi. Alveolus di sisi kiri dalam kondisi normal, sedangkan yang di sisi
kanan penuh terisi cairan akibat pneumonia.
Pneumonia
sering berawal sebagai infeksi
saluran pernapasan atas yang kemudian berpindah ke saluran
pernapasan bawah.[30]
Vaksinasi
terhadap Haemophilus influenzae dan Streptococcus pneumoniae sudah memiliki
bukti bagus untuk mendukung penggunaannya.[30] Mengimunisasi anak terhadap Streptococcus
pneumoniae sudah menyebabkan penurunan insiden infeksi ini pada orang
dewasa, karena banyak orang dewasa memperoleh infeksi ini dari anak-anak. Vaksin Streptococcus pneumoniae
tersedia untuk orang dewasa, dan sudah ditemukan menurunkan risiko penyakit pneumokokal yang invansif.[31] Vaksin lain yang mendukung efek
perlindungan terhadap pneumonia termasuk: batuk
rejan, cacar
air, and campak.[32]
Lainnya
Berhenti
merokok[33] dan menurunkan polusi udara di dalam ruangan, seperti yang
berasal dari memasak di dalam ruangan dengan menggunakan kayu atau kotoran sapi, dianjurkan.[10][12] Merokok tampaknya menjadi faktor
risiko terbesar untuk pneumonia pneumokokal pada orang dewasa yang seharusnya
sehat.[34] Kebersihan tangan dan menutupi
batuk dengan lengan tangan bisa juga menjadi sarana pencegahan yang efektif.[32] Pemakaian masker
operasi oleh mereka yang sakit juga bisa mencegah penyakit.[34]
Mengobati
penyakit dasarnya (seperti HIV/AIDS, diabetes melitus, dan malnutrisi) dengan tepat bisa menurunkan
risiko pneumonia.[12][32][35] Pada anak-anak usia di bawah
6 bulan pemberian susu ibu ekslusif menurunkan baik risiko maupun keparahan
penyakit.[12] Di kalangan mereka yang
menderita HIV/AIDS serta hitungan CD4 kurang dari 200 sel/uL, antibiotik trimetoprim/sulfametoksazol menurunkan
risiko Pneumonia
pneumosistis[36] dan bisa juga berguna untuk
pencegahan bagi mereka yang memiliki gangguan kekebalan tubuh tapi tidak
mempunyai HIV.[37]
Menguji
wanita hamil untuk Streptokokus
Grup B dan Klamidia
trakomatis, dan memberikan pengobatan antibiotik, bila diperlukan, menurunkan
risiko tingkat pneumonia pada bayi;[38][39] sarana pencegahan transmisi dari
ibu ke anak bisa juga efisien.[40] Menyedot mulut dan tenggororkan
bayi dengan cairan
amnion yang tercemar mekonium
belum terbukti menurunkan tingkat pneumonia
aspirasi dan bisa membahayakan,[41] jadi praktek ini tidak
dianjurkan dalam kebanyakan situasi.[41] Di kalangan lansia yang ringkih,
perawatan kesehatan mulut yang baik bisa menurunkan risiko pneumonia aspirasi.[42]
Pengelolaan
|
CURB-65
|
|
|
Symptom
|
Points
|
|
Confusion
|
1
|
|
Urea>7 mmol/l
|
1
|
|
Respiratory rate>30
|
1
|
|
SBP<90mmHg, DBP<60mmHg
|
1
|
|
Age>=65
|
1
|
Biasanya,
antibiotik oral, istirahat, analgesik sederhana,
dan cairan memadai untuk resolusi lengkap.[33] Namun, mereka yang memiliki
kondisi medis lain, kalangan lansia, atau mereka yang mengalami gangguan
pernafasan berat mungkin memerlukan pengobatan lebih lanjut. Bila gejala
memburuk, pneumonia tidak membaik dengan pengobatan di rumah, atau terjadi
komplikasi, perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan.[33] Di seluruh dunia, kira-kira
7–13% dari kasus di kalangan anak-anak memerlukan rawat inap [10] sementara di dunia maju antara
22 hingga 42% orang dewasa dengan pneumonia yang diperoleh dari komunitas
dirawat di rumah sakit.[33] SkorCURB-65
berguna untuk menentukan perlunya rawat inap di kalangan orang dewasa.[33] Bila skornya 0 atau 1 penderita
biasanya bisa ditangani di rumah, bila skornya 2 diperlukan perawatan singkat
di RS atau tindak lanjut untuk meneruskan perawatan, bila skornya 3–5
dianjurkan rawat inap di RS.[33] Di kalangan anak-anak, mereka
yang mengalami kesulitan
pernafasan atau saturasi oksigennya kurang dari 90% harus dirawat di
RS.[43] Manfaat fisioterapi
dada dalam pneumonia belum ditentukan.[44] Ventilasi
non-invasif bisa bermanfaat bagi mereka yang dirawat di unit rawat intensif (ICU).[45] Obat
batuk tanpa resep dokter belum terbukti efektif[46] demikian juga penggunaan unsur seng
di kalangan anak-anak.[47] Tidak ada cukup bukti untuk mukolitik.[46]
Bakteri
Antibiotik memperbaiki hasil-hasil di
kalangan penderita pneumonia bakteri.[48] Pada mulanya pilihan antibiotik
tergantung pada karakteristik penderita, seperti usia, kesehatan dasarnya, dan
lokasi dimana infeksi diperoleh. Di Inggris, pengobatan
empiris dengan amoksisilin
dianjurkan sebagai pilihan pertama untuk pneumonia yang diperoleh dari komunitas,
dengan doksisiklin
atau klaritromisin
sebagai alternatifnya.[33] Di Amerika Utara, di mana bentuk “atipikal”
dari pneumonia yang diperoleh dari komunitas lebih umum, makrolid
(seperti azitromisin
atau eritromisin), dan doksosiklin menggantikan
amoksisilin sebagai pilihan pertama untuk rawat jalan di kalangan orang dewasa.[21][49] Di kalangan anak-anak dengan
gejala ringan atau sedang, amoksisilin tetap menjadi pilihan pertama.[43] Penggunaan fluorokuinolon
dalam kasus yang tidak kompleks tidak dianjurkan karena kekuatiran mengenai
efek samping dan menimbulkan ketahanan sementara manfaat klinisnya tidak lebih
besar.[21][50] Durasi pengobatan biasanya tujuh
hingga sepuluh hari, tapi bukti yang makin banyak menunjukkan pemberian obat
yang lebih pendek (tiga hingga lima hari) sama efektifnya.[51] Dianjurkan untuk pneumonia yang diperoleh dari rumah sakit
termasuk sefalosporin, karbapenem,
fluorokuinolon,
aminoglikosida,
dan vankomisin
generasi ketiga dan keempat.[52] Antibiotik ini sering diberikan secara
intravena dan digunakan sebagai kombinasi.[52] Di kalangan mereka yang dirawat
di rumah sakit lebih dari 90% membaik dengan pengobatan antibiotik awal.[18]
Viral
Penghambat neuraminidase bisa digunakan untuk
mengobati viral
pneumonia yang disebabkan oleh virus influenza (influenza
A dan influenza
B).[6] Tidak ada pengobatan antivirus
yang dianjurkan untuk jenis lain dari pneumonia virus yang diperoleh dari
komunitas termasuk virus SARS coronavirus, adenovirus,
hantavirus,
dan parainfluenza.[6] Influenza A bisa diobati dengan rimantadine
atau amantadine,
sementara influenza A atau B bisa diobati dengan oseltamivir, zanamivir
atau peramivir.[6] Pengobatan ini paling bermanfaat
bila mulai diberikan dalam waktu 48 jam sejak munculnya gejala awal.[6] Banyak strain dari influenza A H5N1,
juga dikenal sebagai avian
influenza atau "flu burung," sudah menunjukkan ketahanan
terhadap rimantadine dan amantadine.[6] Penggunaan antibiotik dalam
pneumonia virus dianjurkan oleh beberapa ahli karena tidak mungkin
mengesampingkan terjadinya infeksi bakteri yang kompleks.[6] British Thoracic Society menganjurkan agar
antibiotik tidak diberikan pada mereka yang mengalami penyakit ringan.[6] Penggunaan kortikosteroid kontroversial.[6]
Aspirasi
Pada
umumnya, pneumonitis
aspirasi diobati secara konservatif dengan antibiotik yang ditujukan
hanya untuk pneumonia
aspirasi.[53] Pilihan antibiotiknya akan
tergantung pada beberapa faktor, termasuk organisma penyebab yang dicurigai dan
apakah pneumonia diperoleh di komunitas atau dikembangkan di setting rumah
sakit. Pilihan umumnya termasuk clindamisin,
kombinasi antibiotik
beta-laktam dan metronidazole,
atau aminoglikosida.[54] Kortikosteroid kadang-kadang digunakan
dalam pneumonia aspirasi, tetapi hanya ada bukti terbatas yang mendukung
efektivitasnya.[53]
Prognosis
Dengan
pengobatan, kebanyakan jenis pneumonia bakteri akan stabil dalam waktu
3–6 hari.[55] Kadang-kadang memakan waktu
beberapa minggu sebelum kebanyakan gejala diatasi.[55] Hasil rontgen biasanya bersih
dalam waktu empat minggu dan mortalitas rendah (kurang dari 1%).[11][56] Di kalangan lansia atau orang
yang memiliki masalah paru-paru lain penyembuhan mungkin memakan waktu lebih
dari 12 minggu. Di kalangan orang yang memerlukan perawatan di rumah
sakit, mortalitas mungkin hingga 10% dan di kalangan mereka yang memerlukan
perawatan intensif (ICU) mortalitas bisa mencapai 30–50%.[11] Pneumonia adalah infeksi yang
diperoleh di rumah sakit paling umum yang menyebabkan kematian.[18] Sebelum adanya antibiotik,
mortalitas biasanya 30% di kalangan mereka yang dirawat di rumah sakit.[15]
Komplikasi
bisa muncul terutama di kalangan lansia dan mereka yang memiliki masalah
kesehatan dasar.[56] Ini bisa termasuk, antara lain: empiema,
abses
paru-paru, bronkiolitis obliteran, sindrom kesulitan pernafasan akut, sepsis, dan memburuknya masalah kesehatan
dasar.[56]
Aturan prediksi klinis
Aturan
prediksi klinis sudah dikembangkan untuk meramalkan secara lebih obyektif
hasil-hasil dalam pneumonia.[18] Aturan ini sering digunakan
untuk menentukan apakah penderita perlu dirawat di rumah sakit atau tidak.[18]
- Pneumonia severity index (or PSI Score)[18]
- CURB-65 score, which takes into account the severity of symptoms, any underlying diseases, and age[57]
Efusi pleura, empiema, dan abses
Anak panah A
menunjukkan cairan yang melapisi di dalam dada kanan. Anak panah B menunjukkan
lebarnya paru-paru kanan. Volume paru-paru diturunkan karena pengumpulan cairan
di sekitar paru-paru.
Pada
pneumonia, pengumpulan
cairan dapat terbentuk di dalam ruang
yang mengelilingi paru.[58] Terkadang, mikroorganisme akan
menginfeksi cairan ini dan menyebabkan empiema.[58] Untuk membedakan empiema dari efusi
parapneumonik yang lebih sederhana dan biasa, cairan dapat diambil
dengan (thorasentis)
jarum, dan diperiksa.[58] Jika hasilnya menunjukkan bukti
empiema, cairan harus diambil seluruhnya, terkadang memerlukan drainage
cathater.[58] Pada kasus empiema parah, dekortikasi
mungkin diperlukan.[58] Jika cairan yang terinfeksi
tidak dikuras, infeksi akan terus terjadi karena antibiotik tidak masuk dengan
baik ke dalam rongga pleural. Jika cairan tersebut steril, cairan perlu
dikeluarkan seluruhnya hanya jika menimbulkan gejala atau tetap tak
terpecahkan.[58]
Bakteria di
dalam paru-paru akan membentuk kantung cairan terinfeksi yang disebut dengan abses
paru-paru.[58] Abses paru-paru biasanya dapat
dilihat dengan sinar-X namun terkadang memerlukan pemindaian CT untuk
memastikan diagnosisnya.[58] Abses biasanya terjadi pada pneumonia
aspirasi, dan seringkali mengandung beberapa jenis bakteri.
Antibiotik jangka panjang biasanya sudah cukup untuk mengobati abses paru-paru,
namun terkadang abses tersebut harus dikeluarkan seluruhnya dengan ahli bedah atau ahli radiologi.[58]
Kegagalan pernapasan dan sirkulatori
Pneumonia
dapat menyebabkan kegagalan pernapasan dengan cara memicu sindrom gawat napas akut (ARDS), yang
diakibatkan oleh kombinasi respons infeksi dan peradangan. Paru-paru dengan
cepat terisi cairan dan menjadi keras. Paru-paru yang mengeras disertai
kesulitan parah untuk mengekstraksi oksigen karena terhambat cairan alveolar
akan memerlukan waktu lama untuk ventilasi
mekanik untuk bertahan hidup.[22]
Sepsis adalah komplikasi yang dapat terjadi
karena pneumonia namun biasanya hanya terjadi pada orang yang kekebalannya
rendah atau hiposplenisme.
Organisme yang umumnya terlibat adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae dan Klebsiella pneumoniae. Penyebab lain dari gejalanya
juga perlu diperhatikan seperti myocardial
infarction atau embolisme
pernapasan.[59]
Epidemiologi
Angka
kematian dengan
standar usia: infeksi saluran pernapasan bawah per
100.000 penduduk pada 2004.[60]
|
no
data
<100
100–700
700–1400
1400–2100
2100–2800
2800–3500
|
3500–4200
4200–4900
4900–5600
5600–6300
6300–7000
>7000
|
Pneumonia adalah
penyakit yang banyak terjadi yang menginfeksi kira-kira 450 juta orang per
tahun dan terjadi di seluruh penjuru dunia.[6] Penyakit ini merupakan penyebab
utama kematian pada semua kelompok yang menyebabkan jutaan kematian (7% dari
kematian total dunia) setiap tahun.[6][48] Angka ini paling besar terjadi
pada anak-anak yang berusia kurang dari lima tahun, dan dewasa yang berusia
lebih dari 75 tahun.[6] Penyakit ini terjadi lima kali
lebih sering di negara-negara
berkembang daripada di negara maju.[6] Pneumonia yang diakibatkan oleh
virus terhitung sekitar 200 juta kasus.[6] Di Amerika Serikat, sejak 2009,
pneumonia menjadi penyebab ke-8 kematian.[11]
Anak-anak
Pada 2008,
pneumonia terjadi pada kira-kira 156 juta anak-anak (151 juta di negara-negara
berkembang dan 5 juta di negara-negara maju).[6] Ini menyebabkan 1,6 juta
kematian, 28–34% dari angka kematian tersebut terjadi pada anak-anak di bawah
lima tahun, dan 95% terjadi di negara-negara berkembang.[6][10] Negara-negara dengan beban
tinggi pneumonia termasuk: India (43 juta), Cina (21 juta) dan Pakistan (10
juta).[61] Penyakit ini menjadi penyebab
utama kematian pada anak-anak di negara-negara berpendapatan rendah.[6][48] Banyak kasus kematian ini yang
terjadi pada periode bayi
baru lahir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
memperkirakan bahwa satu di antara tiga kematian pada bayi yang baru lahir
disebabkan oleh pneumonia.[62] Kira-kira setengah dari kematian
ini dapat dicegah secara teoretis, karena disebabkan oleh bakteri karena
terdapat vaksin yang efektif.[63]
Sejarah
poster WPA, 1936/1937
Pneumonia
adalah penyakit yang banyak terjadi sepanjang sejarah manusia.[64] Gejalanya digambarkan oleh Hippocrates (c. 460 BC – 370 BC):[64]"Peripneumonia, dan afeksi
pleuritis, hal-hal berikut perlu diamati: Jika demam menjadi akut, dan jika
sakit dirasakan di salah satu sisi tubuh, atau di kedua sisi, dan jika batuk
timbul dan ludah yang berwarna kuning atau gelap, atau sedikit, kering, dan
kemerahan, atau berciri berbeda dari biasanya... Apabila pneumonia mencapai
puncaknya, keadaan ini sulit diobati dan jika penderita tidak diobati, dan
memburuk jika penderita pneumonia juga menderita dyspnoea, dan urin sedikit dan
tajam, jika keringat keluar dari daerah sekitar leher dan kepala, karena
keringat tersebut adalah keringat yang tidak sehat, karena diakibatkan oleh
sesak napas, dan kerasnya penyakit yang menyerang tangan bagian atas."[65] Namun, Hippocrates menyebut
pneumonia sebagai penyakit "dinamai di zaman kuno." Dia juga melaporkan
hasil dari drainase bedah empiema. Maimonides (1135–1204 AD) melihat:
"Gejala umumnya yang terjadi pada pneumonia dan tidak pernah tidak terjadi
adalah sebagai berikut: demam akut, nyeri pleuritis seperti ditusuk, napas pendek dan
terengah-engah, denyut
naik turun dan batuk."[66] Gambaran klinis ini mirip dengan
yang ditemukan dalam buku teks modern, dan mencerminkan luasnya pengetahuan
medis dari Abad Pertengahan
hingga abad ke-19.
Edwin
Klebs adalah orang pertama yang mengamati bakteri di saluran napas
orang yang meninggal karena pada 1875.[67] Karya pertama yang
mengidentifikasi dua bakteri penyebab pneumonia yang paling umum, Streptococcus
pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae ditampilkan oleh Carl
Friedländer[68] dan Albert Fränkel[69] pada 1882 dan 1884, secara
berturut-turut. Karya pertama Friedländer memperkenalkan Gram
stain, tes laboratorium dasar yang masih digunakan saat ini untuk
mengidentifikasi dan mengelompokkan bakteri. Tulisan Christian
Gram yang menggambarkan prosedur tersebut pada 1884 membantu untuk
membedakan dua bakteri tersebut, dan menunjukkan bahwa pneumonia dapat diakibatkan
oleh lebih dari satu mikroorganisme.[70]
Sir William
Osler, dikenal sebagai "bapak kedokteran modern,"
mengapresiasi kematian dan kecacatan yang disebabkan oleh pneumonia, dengan
menyebutnya "kapten pembunuh manusia" pada 1918, karena telah
melampaui tuberkulosis
sebagai penyebab utama kematian pada masa ini. Istilah ini berasal dari istilah
yang diciptakan oleh John Bunyan berkaitan
dengan "penggerogotan" (tuberkulosis).[71][72] Osler juga menggambarkan
pneumonia sebagai "teman orang tua" karena kematian yang terjadi
seringkali berlangsung cepat dan tanpa rasa sakit sedangkan sebenarnya masih
ada cara yang lebih lama dan sakit untuk mati.[15]
Beberapa
perkembangan pada 1900an meningkatkan hasil pengobatan untuk pasien pneumonia.
Dengan kemajuan penicillin
dan antibiotik lainnya, teknik pembedahan modern, dan perawatan intensif pada
abad ke-20, mortalitas akibat pneumonia, mendekati 30%, menurun di
negara-negara maju. Vaksinasi bayi untuk melawan Haemophilus influenzae tipe B mulai pada 1988 dan
menyebabkan penurunan dramatis pada kasus tersebut setelahnya.[73] Vaksinasi melawan Streptococcus
pneumoniae pada orang dewasa mulai pada 1977, dan pada anak-anak pada 2000,
yang menghasilkan penurunan serupa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar